Belajar dari pengalaman menjadi tamu kota Deventer, Belanda beberapa minggu, dan mencoba berbagai moda transportasi yang tersedia di kota tersebut, maka rasanya ada beberapa syarat yang harus disediakan agar transportasi warga kota menjadi efisien, antara lain yaitu: 1. Semua moda yang mungkin, dihidupkan/dikembangkan, 2. Antar-moda dibuat terpadu, dalam arti saling mengisi. 3. Perumahan dan perkantoran ditata letaknya dengan baik, 4. Jumlah penduduk/imigran dikendalikan, 5 Kedisiplinan ditegakkan.
Di Belanda, kanal atau sungai buatan yang menyeruak ke dalam perkotaan atau perumahan merupakan urat nadi lalu lintas lain selain jalur jalan di darat. Dengan demikian ada pembagi muatan jalan darat yang dipindahkan. Jalan di bawah tanah tidak sepopuler seperti halnya di Singapura. Kalau di Singapura, sebagian besar perlalulintasan diambilalih oleh kereta api bawah tanah, yang daya muat dan ketepat-waktuannya (punctuality) juga sudah terjamin. Lalu bagaimana dengan kota-kota besar di negeri kita?
Di negeri kita memang sudah terlanjur telalu banyak hal yang mesti dibenahi dulu agar kita bisa memiliki kemudian mewariskan (seperti halnya Belanda)sistem transportasi massal yang efisien bagi masyarakat kota/penghuninya. Pembangunan perkantoran bertingkat tinggi dan berejer-jejer dalan satu line jalan, tanpa dibarenagi dengan penambahan ruang/jalur jalan (bawah tanah atau layang), tentu saja membuat kemacetan, kalau jam kerjanya juga bersamaan. Karyawan/pegawai/pengusaha tentu secara tidak sengaja akan berebut ruang untuk lewat, dengan membawa kendaraannya masing-masing. Dengan kata sederhana, rise-up building (pengembangan/pembangunan ke atas)konsekuensinya harus diimbangi dengan pembangunan jalan ke atas atau ke bawah juga, untuk mengimbangi tambahan perlintasannya, kalau tidak dimungkinkan lagi pelebaran jalan.
Meningkatakan frekuensi angkutan umum, dalam kondisi jalur jalan yang dimanfaatkan oleh berbagai jenis kendaraan juga tentu saja tidak banyak menolong. Dan perilaku berebutan untuk mendapat hak jalan duluan tetap saja terjadi. Ini yang melahirkan berbagai sikap tingkah laku yang kemudian menjadi penyakit masyarakat perkotaan, seperti: egois, tidak-sabar, stres, Betapa tidak. Karena tidak adanya kepastian jalannya bus, agar kita tidak telat sampai di tempat kerja, kita juga harus berangkat/mencegat lebih awal. Dalam bus kita rebutan tempat duduk. Timbullah kondisi kondusif untuk munculnya tindakan kriminal berupa copet. Dalam perjalanan bus kota, setiap orang yang melambaikan tangan, karena bus memang jalannya pelan,selalu diterima masuk bus sampai penuh sesak. Alhasil, terjadilah perjalanan yang menyiksa setiap hari, padahal kita membayar. Singkat kata, kalau kita renungkan kita kok membayar untuk penyiksaan diri kita sendiri. Apakah ini bukan suatu keanehan? Jawabnya ya, ya betul! Dan konfirmasi jawaban ini sangat jelas kita dapatkan setelah merasakan dan menikmati sistem transportasi masal di negara seperti Belanda itu. Di sana kemana-mana berasa nyaman-aman atau selesa, kata orang Malaysia
Ini kita belum berbicara tentang angkutan lebaran, yang merupakan event mobilitas penduduk antar kota/wilayah, yang tentu saja lebih memusingkan siapapun yang harus tetap menjadi PR khusus bagi para pemimpin kita untuk merancang dan mengatasinya. Untuk tahap pertama, sudah cukup baik rasanya kalau korban kecelakaan/kematiannya bisa ditekan. Untuk tahapan berikutnya, mengupayakan agar pemborosan total bisa ditekan juga: baik itu BBM (krn macet), pengerahan sumber daya pengamanan (berbagai satgas/operasi), distribusi barang (krn tergannggu arus mudik),termasuk implikasinya pada pra atau pasca lebaran yang selalu mengikuti: kenaikan harga sembako!
Kalau bisa dituliskan dengan kalimat-kalimat secara berurutan, maka idealnya sarana transportasi yang baik dan dapat disebut menghargai harkat individu masyarakat perkotaan adalah: 1. Kita dapat berangkat dari rumah,tidak terlalu jauh dari halte, 2. Sesampainya di ujung jalan di mana terdapat halte, dalam beberapa menit, bus yang kita nantikan tiba dan tidak dalam keadaan penuh, 3. Pembayaran diutamakan dan harus diusahakan dengan kartu berlangganan, di samping cash sesekali(kalau darurat) sehingga pelayanan bisa lebih cepat (mengurangi penghitungan/pengembalian uang), 4. Bus berhenti tidak terlalu lama (maks 3 menit), 5. Bus dalam keadaan bersih, 6.Kecepatan bus konstan/tetap (tidak ngebut, juga tidak terlalu lambat), 7. Ada bel atau pemberitahuan kalau halte pemberhentian di depannya sudah dekat (dengan demikian penumpang yg akan turun sudah siap atau tidak kebablasan,tidak ketiduran). [Nah ini semua berlaku dan sudah diterapkan dengan baik di Deventer.]
Demikian juga efek ikutannya. Kalau sarana bus sudah mumpuni, maka kendaraan pribadi (entah itu mobil sedan, motor dsbnya)akan rasional jumlahnya. Untuk apa memiliki kendaraan banyak-banyak kalau ke mana-mana sudah dijamin mudah dan enak oleh angkutan bus. Lama-lama otak masyarakat akan berpikir ke efisiensi. Hanya beberapa gelintir saja yang tersisa, yang suka pamer kemampuan dan gengsi. Selebihnya akan menggantungkan hidupnya pada sarana umum yang disediakan pemerintah atau swasta itu, karena memenuhi kebutuhannya. Buttom line atau ujung-ujungnya, pengeluaran negara dan pengeluaran pemborosan seluruh masyarakat, baik secara jangka pendek maupun jangka panjang akan menurun drastis, dibandingkan dengan keadaan bermacet ria.Nah kalau kondisi demikian bisa tercipta, maka tidak ada lagi orang yang ketakutan akan sampainya terlambat, ketakutan gajinya dipotong, ketakutan rapatnya batal, dan lain-lain persaan susah/tertekan, termasuk kekhawatiran suatu saat akan tiba gilirannya untuk menerima musibah tabrakan! Kenapa, karena kenyataannya kesehariannya kita bersaing terus sesama penumpang demi untuk mendapat satu tempat duduk atau ruang terangkut dalam bis kota. Demikian juga antara kendaraan. Mestinya pelayanan transportasi yang baik itu hak lho seperti halnya di negara-negara yang telah maju(baca: para pemimpinnya sangat peduli thd kesejahteraan rakyatnya) ...kok di negeri kita menjadi kewajiban atau beban sendiri untuk diperjuangkan dengan segala pengorbanan!
Bagaimanakah syarat sarana transportasi seperti bus, kereta api yang ideal yang digandrungi masyarakat yang berpikiran efisien demikian? Klik di sini, di paparan lanjutannya.
30 Oktober 2008
Langganan:
Postingan (Atom)